B. Indonesia

Pertanyaan

Orientasi,komplikasi dan resolusi tentang cerita ruang dimensi alpha dan berlian 3 warna tolong dijawab

Kagak boleh ngasal
Klao ngasal jangan dijawab
(Dikasih tau orientasi,komplikasi dan resolusinya paragraf berapa)

1 Jawaban

  • Ruang Dimensi Alpha
    “Kau harus membawanya kembali! Ia akan mati jika di sini!” Erza berteriak kalang kabut. “Kacau! Kacau!” ia kembali melampiaskan kekesalannya. Mengotak-atik sistem dimensinya.             Aku gugup. Bingung. Tak tau apa yang harus kuperbuat, sedangkan manusia bercawat dengan wajah setengah kera itu memandang berkeliling dengan mata merengek. Ia seakan segan pada seluruh monitor yang mengacu kepadanya.
    ***
    ***             Aku mengotak-atik komputer Luminaku dengan cepat. Polisi GA telah sampai di planet ini dan aku memutuskan untuk menyelesaikannya sendiri.             “Sistem Shift, oke!” salah seorang pekerja lab. nomer 23 melaporkan dari earphone. Aku mengangguk. Sementara Erza menunggu kedatangan polisi itu, aku akan menyelesaikan semuanya menggunakan Dimensi Alpha dengan resiko mega. Waktunya singkat, kemungkinan aku takkan bisa kembali ke masa ini. Meskipun begitu, hal ini takkan merubah masa lalu karena begitu aku sampai di sana, mungkin tubuhku akan lenyap dilahap masa.             Aku tidak bisa jika harus membunuhnya. Setiap mahkluk berhak untuk hidup, apalagi jika itu seorang manusia sekalipun manusia purba. Aku yang membawanya, jadi aku yang harus mengembalikannya. Orang tuaku tak pernah mengajarkanku untuk melarikan diri sesulit apapun masalah yang kuhadapi, selalu ada solusi sekalipun harus menuai pengorbanan diri.             Ku klik tombol ‘run’ pada layar monitor Lumina di depanku dan diikuti sistem ‘patch’ yang dijalankan serentak oleh 27 pekerja lab. Cara lama bukan? Tapi ‘cara lama’ inilah jalan keluar satu-satunya sekalipun itu berarti mengubah sistem mikro Dimensi Beta ke Dimensi Alpha agar bisa digunakan sekali lagi dengan resiko tinggi.             Terlintas di benakku kala Erza untuk pertama kali menangis di depanku, dia yang kutahu adalah wanita paling tegar yang pernah kutemui, hanya yang tak kutahu ternyata dia selemah itu jika mengingat tentang papanya. Aku termenung. Jariku berhenti di atas tuts Key2D, melirik manusia purba yang tak mengerti apa-apa, ini dunia yang asing baginya.             “Zi, kau yakin?” Anches bertanya dari balik meja pekerja lab. nomer 2. Aku tersenyum getir. Tidak ada waktu untuk memutar keputusan yang telah kutetapkan, tidak ada waktu untuk kembali memikirkannya berulang kali. Kutekan tuts ‘enter’ pada monitor Lumina pusat dan mesin Dimensi Alpha mulai bereaksi.   
                Pagar Asteroid terbuka lebar, memberikan ruang cukup untuk manusia purba itu lewat. Tiba-tiba alarm berbunyi. Nyaring. Membuat manusia purba itu semakin tak mau melewati pagar Asteroid ini. Aku memandang berkeliling dengan panik.             “Ozi! Ada kerusakan!” bunyi alarm itu menggema di ruang lab. ini. Tak hanya aku, seluruh pekerja terlihat panik dan mencoba mengatasi ini. Mereka segera mengotak-atik sistem mikro Dimensi Alpha. Aku mencoba menarik manusia purba dengan gugup, sekuat tenaga agar dia menuruti perintahku. Ia melompat ketakutan, lepas dari genggamanku, meloncat ke atas monitor Luminaku. Menghancurkannya dengan kaki dan berat tubuhnya.

Pertanyaan Lainnya