B. Indonesia

Pertanyaan

apa unsur intrinsik dari cerpen
KENANGAN YANG TERTINGGAL

Oleh: Gola Gong

Ketika rencana pembuatan jalan bebas hambatan itu jadi pembicaraan di surat kabar dan televisi, maka Buyunglah yang paling gelisah di antara seisi rumah. Bagaimana tidak. Proyek jalan tol itu melintasi tanah orang tuanya, tempat padepokan seninya berada. Jika tanah orang tuanya kena gusur, berarti hilang sudah padepokannya, tempat dia belajar kesenian bersama teman-teman sekolahnya.

Tapi, bapak, ibu, dan kedua kakak perempuannya malah menyambut gembira rencana itu. Kelihatannya mereka sedang membayangkan uang ganti rugi yang mencapai puluhan juta. Wah, Bapakku bisa tambah kaya, nanti! Pikir Buyung. Dan kalau Buyung mencoba menentang rencana penggusuran tanah itu, kedua kakaknya pasti menertawakannya dan dengan kompak mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang terlalu mementingkan dirinya sendiri. Egois. Tidak mementingkan orang banyak.

“Padepokan Buyung bagaimana, Pak?” Protes Buyung manja.

“Padepokan saja yang kamu urusi, Buyung!” kata Bapak agak kesal. Beliau memasukkan tembakau ke pipa cangklongnya. “Kamu kan bisa bikin lagi di tanah Bapak yang lain! Bikin padepokan lagi di sana!”

Tanah orang tuanya memang banyak. Warisan turun temurun. Jika tanah tempat padepokannya itu kena proyek jalan tol, maka tanah bapaknya masih bertebaran. Bapaknya memang terkenal dengan sebutan feodal, juragan tanah, karena punya tanah di mana-mana. Bapaknya sangat disegani orang-orang. Tapi, walaupun begitu bapaknya selalu mengelak jika dicalonkan menjadi kepala desa atau yang lebih tinggi dari itu. Misalnya anggota dewan di kabupaten sekalipun. Bapaknya cukup merasa bahagia mengurusi usaha dagang material bangunan sambil mengawasi sawahnya dan sesekali pergi memancing di irigasi.

Sebagai anak bungsu Buyung terus merengek tidak mau terima dengan rencana gila itu. Namun bapaknya bilang, untuk pembangunan kita harus mau berkorban. Apalagi untuk kepentingan umum. Buyung tidak bisa berkutik. Ya, dia bisa saja membuat lagi padepokan di tanah yang lain, tapi tak semudah itu! Padepokan seninya sudah dia dirikan sejak SMP. Itu berarti lima tahun yang lalu.

Di tanah bapaknya yang berupa pesawahan, di sebuah sudutnya ada kantong kecil berupa hutan kecil yang rimbun dengan pepohonan. Ada jambu air, mangga, jambu batu, pepaya, kedondong, rumpun bambu, dan segerombolan pohon pisang. Dengan seizin bapaknya dibangunlah sebuah gubuk beratapkan daun kelapa dan bangku-bangku dari bambu di halamannya. Ada panggung kecil di tengah-tengahnya, tempat kelompok teater sekolah bermain. Itulah padepokan seninya. Dia menamai padepokannya dengan sebutan ”Padepokan Rumah Seni”.

Di padepokan itulah Buyung menyalurkan gairah seninya. Hampir setiap sore ia duduk berangin-angin, melukis para petani, kerbau, lumpur, padi, sungai, irigasi, dan gunung. Setiap malam Minggu, seusai berkumpul dengan kawan-kawan sekolahnya, Buyung menghabiskan malam di padepokan bersama teater sekolahnya; menanak nasi liwet sambil berburu belut dan kodok swike di sawah, atau menyembelih ayam. Pada hari-hari yang hening dan romantis, Buyung membuat puisi dan cerita pendek.

Itulah mengapa padepokan ini sangat penting bagi Buyung. Rasanya tak ada yang berharga lagi di muka bumi ini setelah keluarga dan kelompok teaternya selain padepokannya. Hancur dan remuk jiwanya setelah tahu pasti enam bulan lagi segalanya akan dicakar-cakar oleh buldoser. Akan rata dengan bumi dan di atasnya akan dilapisi aspal panas. Akan dilindasi roda-roda gila kendaraan yang menuju daerah wisata di pantai Anyer. Orang-orang Jakartalah yang sebetulnya menuntut jalan tol ini dibuat, karena dengan begitu mereka bisa lebih lancar berwisata ke Anyer.

Berarti Buyung cuma punya sisa waktu enam bulan lagi untuk menghabiskan hari-harinya bersama kelompok teaternya di padepokan. Bersamaan dengan pengumuman hasil ujian akhir sekolahnya.

”Pokoknya, dalam sisa waktu yang sedikit ini, Buyung memilih tinggal di padepokannya saja!”

”Buyung!” ibunya berusaha mencegah.

”Biarin aja, Bu!” kata kakak perempuannya yang nomor dua.

Buyung sudah duduk di sadel sepeda gunungnya. Ransel kecil yang penuh dengan perbekalan nemplok di punggungnya. Dia sudah memutuskan untuk mengungsi ke padepokannya, merasakan bagaimana nikmatnya hidup di padepokan. Menjadi orang bebas dan raja kecil bagi dirinya sendiri.

1 Jawaban

  • Unsur intrinsik 

    1. Tema: kehidupan sosial

    2. Tokoh dan penokohan
    -Buyung = keras kepala/egois, pantang menyerah, berjiwa seni, manja, (namun pada akhirnya) baik hati (karena ikhlas padepokannya akan digusur)
    -Ayah = bijaksana, tidak sombong, sabar
    -Ibu = penyabar, penyayang, peduli
    -Kakak-kakak buyung = kurang peduli, bijak seperti ayah

    3. alur maju

    4. sudut pandang orang ketiga sebagai pengamat

    5. Latar/setting
    -Latar tempat: rumah, padepokan
    -Latar Waktu: siang hari dan sore hari
    -Latar suasana: tegang, mengharukan

    6. Majas
    -majas ekslamasio: majas yang menggunakan kata seru 
    "Wah, Bapakku bisa tambah kaya, nanti!"
    -majas personifikasi: menempatkan sifat manusia pada benda mati
    "Akan dilindasi roda-roda gila kendaraan yang menuju daerah wisata di pantai Anyer." 
    "
    Hancur dan remuk jiwanya setelah tahu pasti enam bulan lagi segalanya akan dicakar-cakar oleh buldoser."

    7. Amanat 
    "Sebagai manusia, kita tidak boleh egois dan mementingkan diri sendiri. Segala sesuatu perlu dipertimbangkan dengan sebaik mungkin."

    ---
    Semoga membantu :)
    mohon maaf jika ada kesalahan ya...

Pertanyaan Lainnya