Sejarah

Pertanyaan

Uraian Kegiatan Upacara Kasada

1 Jawaban

  • Mata pelajaran: IPS Sejarah

    Kelas: V SD

    Kategori: Keanekaragaman Suku Bangsa dan Budaya Indonesia

    Kata kunci: Suku Tengger, Gunung Bromo, Upacara Kesodo

    Pembahasan:

    Kebudayaan mempunyai manfaat yang sama besar  dalam masyarakat, yaitu membantu manusia dalam melagsungkan kehidupannya atau sebagai pedoman hidup. Kebudayaan mengarahkan manusia  sehingga ia mengerti bagaimana harus bersikap, berperilaku bertindak, baik secara individu maupun kelompok kehiaupan juga mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat dan menerntukan sikap ketika berhubungan dengan orang lain.

    Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dan ras. Kebudayaan tradisinal menjadi sumber dari kebudayaan nasional. Salah satu suku yang ada di Indonesia ialah suku Tengger dan bermukim di Gunung Bromo kota Probolinggo, provinsi Jawa Timur.

    Jumlah Suku Tengger sekitar 40 ribu (1985) tinggal di lereng G.Semeru dan di sekitar kaldera Tengger. Suku Tengger sangat dihormati karena hidup jujur, tidak iri hati, dan tidak suka bertengkar. Masyarakat Tengger adalah keturunan Roro Anteng (putri raja Majapahit) dan Joko Seger (putera seorang brahmana). Penduduk Suku Tengger menjunjung tinggi persamaan, demokrasi, dan kehidupan bermasyarakat. Bahasa daerah yang digunakan Masyarakat Tengger dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa Jawa Tengger, yakni bahasa Jawa Kuno. Mereka tidak menggunakan tingkatan bahasa, berbeda dengan bahasa Jawa yang dipakai pada umumnya memiliki beberapa tingkatan.

    Tengger dikenal sebagai tanah hila-hila (suci) mulai dari Kerajaan Majapahit, para penghuninya dianggap sebagai abdi dibidang keagamaan dari Sang Hyang Widi Wasa. Hingga kini Masyarakat masih mewarisi tradisi Hindu sejak jaman kejayaan Majapahit. Agama Hindu di Bali dan di Tengger pada dasarnya sama yaitu Hindu Dharma, tetapi Masyarakat Tengger tidak mengenal kasta, dan masih menganut tradisi yang pernah berkembang pada jaman Majapahit.

    Tidak seperti halnya masyarakat Hindu di Bali, Masyarakat Tengger tidak memiliki Istana, pustaka, maupun kekayaan seni-budaya tradisional, meski memiliki beberapa obyek penting semacam lonceng perunggu dan sebuah padasan di lereng bagian utara Tengger yang telah menjadi puing. Namun demikian mereka kaya akan kepercayaan dan upacara adat

    Upacara Kasada merupakan ungkapan syukur Suku Tengger terhadap sang pencipta, Yang Widi Wasa, atas berkah dan rezeki yang diberikan. Juga penghormatan kepada nenek moyang mereka, yakni Joko Seger dan Roro Anteng, yang rela mengorbankan putra terakhirnya demi kedamaian hidup anak keturunannya yang mendiami kawasan Gunung Bromo.

    Upacara Kasada diselenggarakan pada saat purnama bulan Kasada (ke dua belas) tahun saka, upacara ini disebut juga sebagai Hari Raya Kurban. Biasanya lima hari sebelum upacara Yadnya Kasada, diadakan berbagai tontonan seperti; tari-tarian, balapan kuda di lautan pasir, jalan santai, pameran. Sekitar pukul 05.00 pendeta dari masing-masing desa, serta masyarakat Tengger mendaki Gunung Bromo untuk melempar Kurban (Sesaji) ke Kawah Gn.Bromo. Setelah pendeta melempar Ongkeknya (tempat sesaji) kemudian diikuti oleh masyarakat lainnya.

    Gunung Bromo pemandangan alam yang indah selain itu juga mempunyai daya pikat bagi para wisatawan karena tradisi masyarakat tengger yang tetap menjalankan adat istiadat dan budaya yang menjadi pedoman hidupnya. Upacara Kasada terkenal hingga ke luar negari dan banyak turis lokal maupun turis manca Negara yang datang.

     




    Gambar lampiran jawaban claramatika

Pertanyaan Lainnya